Karyono Wibowo Sebut Emil Dardak Pantas Dipecat

"Ironisnya, anak mantan wakil menteri PU di era pemerintahan SBY ini mimilih berhadapan dengan partai yang dulu mendukung penuh dirinya hingga herhasil menjadi bupati. Sikap Emil ini mencerminkan karakter orang yang tidak tau balas budi," ujar Karyono.

BERBAGI
Pengamat politik Indonesian Public Institute (IPI), Karyono Wibowo. Foto: Redaksikota.com/Fiqi Septiansyah.

Redaksikota – Pengamat politik, Karyono Wibowo menilai bahwa langkah PDI Perjuangan yang memecat Bupati Trenggalek, Emil Dardak dari keanggotaan partai merupakan langkah yang wajar dan sangat tepat. Hal ini disampaikan Karyono mengingat sikap indisipliner dari suami Arumi Bachsin itu.

“Sikap tegas DPP PDI Perjuangan yang memecat Emil Dardak dari keanggotaan partai merupakan langkah yang tepat,” kata Karyono Wibowo dalam keterangan persnya, Sabtu (25/11/2017).

Tidak hanya dinilai sebagai tindakan indisipliner saja, Karyono menilai sikap politik Emil tersebut sudah masuk dalam kategori sebagai penghianat partai.

“Bahkan, kategorinya bisa disebut sebagai pengkhianat jika merujuk dari sejarah ketika Emil menjadi calon bupati Trenggalek yang telah didukung penuh oleh PDI Perjuangan hingga ia menjadi bupati,” terangnya.

Dalam etika partai, Karyono menilai jika sikap pria pemilik nama lengkap Emil Elestianto Dardak itu yang memilih berseberangan dengan partai yang membesarkan namanya itu sebagai wujud sosok kader yang tak tahu terima kasih.

“Ironisnya, anak mantan wakil menteri PU di era pemerintahan SBY ini mimilih berhadapan dengan partai yang dulu mendukung penuh dirinya hingga herhasil menjadi bupati. Sikap Emil ini mencerminkan karakter orang yang tidak tau balas budi,” ujar Karyono.

Perspektif lain yang disampaikan oleh Karyono adalah terkait dengan dugaan pertarungan politik. Ia memiliki dugaan sikap politik Emil Dardak tersebut bukan hanya sebatas ambisi putra Hermanto Dardak untuk mencari kekuasaaan.

“Sikap Emil Dardak yang mengambil posisi diametral berhadapan dengan PDI Perjuangan dalam pilgub Jatim nampaknya tidak sekadar ambisi pribadi Emil, tetapi patut diduga ini merupakan skenario politik untuk memecah suara dan mengganggu PDI Perjuangan secara psikologis,” pungkas Karyono mengungkapkan dugaannya.

Namun demikian, Karyono yang merupakan peneliti senior Indonesia Public Institute (IPI) tersebut menyarankan agar partai yang kini dipimpin oleh Megawati Soekarnoputri tersebut tak perlu panik. Jika melihat ketokohannya, Emil Dardak tidak bisa serta merta dikategorikan sebagai faktor utama yang bisa mempengaruhi suara PDI Perjuangan di Jawa Timur.

“PDI Perjuangan tak perlu kuatir karena Emil Dardak bukan faktor signifikan dalam menentukan kemenangan di pilkada Jatim. Upaya untuk memecah suara pemilih PDI Perjuangan juga tidak akan maksimal. Pasalnya, sosok Emil bukan tokoh penting yang berpengaruh di internal PDI Perjuangan karena status Emil di PDI Perjuangan ibarat hanya anak pungut yang kini sedang dipungut lagi oleh pihak lain,” tegasnya.

Selain persoalan ketokohan Emil Dardak, Karyono juga menilai pilihan PDI Perjuangan terhadap Saifullah Yusuf (Gus Ipul) sudah sangat tepat. Mengingat salah satu Ketua di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut memiliki elektabilitas jauh di atas pasangan Emil Dardak, Khofifah Indar Parawansa.

“Saat ini elektabilitas Saifullah Yusuf masih jauh di atas Khofifah,” imbuh Karyono.

Ditambahkan Karyono, jika melihat dari sisi calon wakil masing-masing antara Emil yang mewakili Khofifah dengan Azwar Anas yang mendampingi Gus Ipul, justru posisi PDI Perjuangan jauh lebih aman.

“Lalu, jika dibandingkan antara Azwar Anas dengan Emil Dardak yang posisinya sama sama sebagai bupati, sosok bupati banyuwangi Azwar Anas lebih berprestasi dalam memimpin daerah. Dan saat ini, popularitas Anas bahkan sudah menembus atmosfir nasional karena namanya masuk salah satu kepala daerah berprestasi,” terang Karyono.

Lebih lanjut, melihat dari faktor prestasi dan bukti nyata merupakan instrumen penting yang menjadi pertimbangan pemilih untuk menentukan pilihan. Sementara dikatakan Karyono, Emil yang baru menjadi bupati kurang lebih 2 tahun juga masih memiliki potensi besar kurang aman.

“Dia belum tuntas menyesaikan program-programnya sesuai janji kampanyenya,” pungkas Karyono.

Oleh karena itu, Karyono menekankan jika ingin berhasil naik ke level yang lebih tinggi, semestinya Emil Dardak harus bersabar terlebih dahulu dan tidak terburu-buru menuruti ambisinya itu.

“Ukir prestasi telebih dahulu dan meningkatkan investasi sosial (social capital) sebagai bekal untuk melaju di tingkat lebih tinggi,” tutup Karyono. (ibn)