Serukan Aksi 2610, Netizen Ingatkan PA212 Jangan “Manfaatkan” Umat Tak Berdosa

"Tidak perlu lagi mengerahkan massa yang tidak berdosa dan tidak tahu apa-apa, jika hanya sekedar memaksakan kehendak untuk mendukung pasangan tertentu dalam Pilpres 2019," tutupnya.

BERBAGI
Aksi 2610
Aksi 2610

Redaksikota – Pemerhati sosial politik, Elang Yusanto menilai jika seruan aksi yang akan digelar oleh Presidium Alumni 212 (PA 212) pada tanggal 26 Oktober 2017, merupakan bentuk dari ketidak percayaan lagi dari elemen tersebut kepada DPR RI.

Padahal menurutnya, DPR RI sebagai lembaga legislatif yang menjadi mitra sekaligus pengawas kinerja Pemerintah Pusat sudah sempat mengundang pihak mereka termasuk ormas Front Pembela Islam (FPI) untuk berdialog, terakit dengan grand issue yang mereka pertentangkan, yakni tentang penerbitan Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Ormas.

“Pasca RDPU (Rapat Dengar Pendapat Umum -red) tersebut, di kalangan pengurus FPI dan PA 212 berkembang kabar, bahwa mereka pesimis Perppu Ormas ditolak oleh fraksi-fraksi di DPR RI. Artinya, Sidang Paripurna DPR RI akan menerima Perppu Ormas dan mengesahkannya menjadi Undang-Undang,” kata Elang dalam siaran persnya, Minggu (22/10/2017).

Bahkan saat ini berkembang seriuan ajakan Aksi yang terkenal dengan simbol angka, yakni Aksi 2610 alias 26 Oktober tersebut di sosial media Facebook. Di sana, elemen yang mengatasnamakan Presidium Alumni 212 mengajak kepada seluruh simpatisannya untuk ikut turun aksi di DPR RI hari Kamis itu.

“Bahkan menurut salah seorang pengurus PA 212 yang minta dirahasiakan identitasnya, (mengatakan) PA 212 telah menghimbau kepada segenap ormas Islam agar menginap di Gedung MPR DPR RI sampai DPR RI mau menolak Perppu Ormas,” ujar Elang.

“Menurutnya, fraksi yang sudah fix menolak Perppu Ormas hanya 3 fraksi sehingga apabila dilakukan voting, maka fraksi yang menolak akan kalah suara,” imbuhnya.

Selain itu, ia mengatakan jika hanya 3 fraksi di DPR RI yang menolak Perppu Ormas, tidak bisa serta merta menjadi perspektif bahwa suara tersebut adalah mewakili mayoritas rakyat Indonesia.

“Lalu apakah tepat jika PA 212 mengklaim bahwa seluruh Rakyat Indonesia menolak Perppu Ormas?. Memangnya hanya ketiga fraksi itu saja yang mewakili Rakyat Indonesia?. Jika seluruh Rakyat Indonesia menolak Perppu Ormas, lalu kenapa PA 212 harus kebakaran jenggot mengerahkan pasukannya menginap di Gedung MPR DPR RI guna menekan fraksi-fraksi yang mendukung Perppu Ormas?,” nilainya.

Elang pun mengatakan jika kalau merujuk pada mayoritas suara rakyat dilihat dari suara fraksi di DPR RI. Maka yang paling tepat untuk berbicara sah atau tidaknya Perppu tersebut adalah seberapa banyak para fraksi yang berbicara merespon sikap politik mereka.

“Bukankah mayoritas anggota fraksi DPR RI yang mendukung Perppu Ormas dipilih secara sah oleh Rakyat Indonesia?,” tandasnya.

Lebih lanjut, Elang mengingatkan kepada segelintor orang untuk tidak mengedepankan ego sektoral dengan memberikan dampak negatif di dalamnya. Apalagi demi ambisi sebuah pilihan politik semata, jutaan rakyat diacuhkan suaranya.

“Janganlah hanya gara-gara ingin mendukung seseorang dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 lalu membuat gaduh bangsa sendiri. Percayakan saja semuanya kepada DPR RI yang anggotanya dipilih oleh Rakyat Indonesia,” ujarnya.

Terakhir, Ia pun meminta kepada Presidium Alumni 212 untuk tidak memanfaatkan masyarakat yang tidak berdosa untuk menunggangkan kepentingan politik tertentu.

“Tidak perlu lagi mengerahkan massa yang tidak berdosa dan tidak tahu apa-apa, jika hanya sekedar memaksakan kehendak untuk mendukung pasangan tertentu dalam Pilpres 2019,” tutupnya.