Agar Anak-Anak Tidak Menjadi Jahat

Dari : AKBP Didik Novi Rahmanto, M.H

BERBAGI

ISIS
Anak-anak sedang dilatih bela diri oleh militan ISIS. [foto : Daily Mail]
Dalam semiggu ini publik dunia dibuat heboh dengan ulah terbaru kelompok teroris internasional ISIS. Salah seorang simpatisan kelompok penggila kekerasan tersebut, Zamer Ghumra, diketahui menyebarkan ajaran kekerasan khas ISIS kepada anak-anak di bawah umur. Pria berusia 38 tahun berkebangsaan Inggris tersebut memaksa anak-anak menyaksikan video-video pemenggalan kepala yang dilakukan oleh ISIS, ia juga melarang anak-anak untuk bergaul dengan anak lain yang non-muslim. Tak hanya itu, ia mengajarkan pula cara berkelahi menggunakan pisau.

Atas kejadian ini kita tentu patut risau; anak-anak yang seharusnya bebas untuk bermain dan belajar justru dijadikan target penyebaran ajaran kekerasan. Khususnya oleh kelompok ISIS, anak-anak bahkan dipersiapkan sedemikian rupa untuk menjadi teroris dan pembunuh di usia mereka yang masih terlalu belia.

Data yang dirilis oleh the US Combating Terrorism Center menunjukkan fakta yang mengerikan. Pada periode Januari 2015 – Januari 2016 saja, sedikitnya 33% anak-anak tewas akibat terlibat dalam peperangang untuk membela ISIS. 51% terbunuh di Irak dan 36% terbunuh di Suriah. Dari keseluruhan yang tewas tersebut, 60%-nya adalah anak-anak berusia 12-16 tahun, sementara 6% berasal dari anak-anak berusia 8-12 tahun.

Bagi ISIS, anak-anak adalah asset penting untuk menjaga dan mewujudkan mimpi mereka mendirikan kekhilafahan di muka bumi ini, terutama dengan kondisi mereka yang kini semakin terpuruk, ISIS tidak punya pilihan lain selain melatih anak-anak agar menjadi manusia yang buruk. Kelompok pimpinan Abu Bakar al Baghdadi ini diketahui telah kehilangan banyak wilayah penting yang dulu sempat menjadi daerah kekuasaanya, baik di Irak, Suriah maupun di Libya.

Para petempur mereka juga diketahui banyak yang telah meregang nyawa atau ditangkapi pihak berwenang setempat. Dalam kondisi ini, sisa-sisa serpihan ISIS memanfaatkan anak-anak untuk menjadi penerus kekejaman mereka.

Dalam sebuah wawancara yang dilakukan oleh BBC kepada Mutassim, remaja Suriah berusia 16 tahun yang berhasil kabur dari kamp ISIS, diketahui bahwa ISIS ‘menggarap’ anak-anak dengan sangat serius dan sistematis. Prosesnya dimulai dengan pembinaan, lalu perekrutan dan kemudian pelatihan. Di bagian ini, anak-anak dilatih untuk menjadi pembunuh buas yang selalu haus darah. Mereka dipersiapkan untuk menjadi teroris-teroris baru yang akan melakukan kebiadaban yang sama, atau bahkan lebih parah, di masa-masa mendatang.

Menurut cerita dari Mutassim, ISIS melatih anak-anak ini hingga berjam-jam setiap harinya. Diawali dengan shalat Subuh berjamaah, lalu latihan fisik dan pengajaran agama yang dimaksudkan untuk membenarkan semua kebiadaban yang dilakukan.

ISIS memang diakui oleh banyak pihak sebagai kelompok yang paling ‘berhasil’ melakukan indoktrinasi terhadap anak-anak, kelompok lain seperti; tentara pemberontak di Afrika, Timur Tengah dan Amerika Utara, tidak pernah bisa benar-benar membujuk anak-anak agar mau berlaku jahat. ISIS, selain memberlakukan pelatihan yang ketat, mereka juga memberikan imbalan. Salah satu jenis imbalan yang paling menarik perhatian anak-anak, khususnya yang beranjak remaja, adalah janji akan diberi imbalan perempuan.

Sampai sini kita dapat menyaksikan betapa kelompok teroris ISIS, beserta semua turunannya, begitu serius mengincar anak-anak untuk menjadi penerus mimpi-mimpi jahat mereka. Bahaya yang disebar oleh ISIS tidak saja berlaku di Timur Tengah, tetap juga di sini, di negeri ini. Terutama dengan semakin berkembangnya teknologi informasi, pesan-pesan kebencian dan permusuhan yang disebarkan oleh ISIS dapat mudah masuk dan mempengaruhi anak-anak kita.

Tangkal Paham Radikal

Sehat berinternet. [foto : fosi.org]
Untuk memastikan anak-anak terhindar dari ajaran jahat, semua pihak (tidak hanya orang tua) harus turun tangan dan mencari solusi terbaik yang bisa dilakukan dengan cepat dan tepat. Hal pertama yang harus dilakukan adalah memastikan bahwa anak-anak tahu mereka dicintai oleh orang-orang di sekitarnya, dengan begitu mereka akan belajar untuk bersyukur dan balas mencintai orang-orang di sekililingnya. Sementara bagi para orang tua, mereka harus aktif menyaring semua informasi yang diterima oleh anak.

Jangan dikira, jika anak bermain internet di dalam rumah akan aman, justru jika tanpa pengawasan, anak-anak tersebut berpotensi menerima informasi yang tidak seharusnya mereka terima. Karenanya orang tua harus aktif memeriksa dan membatasi keluar masuknya informasi yang akan dicerna oleh anak.

Kita pun perlu mendorong pemerintah untuk segera mensahkan revisi undang-undang terorisme, khususnya terkait dengan penanganan negara terhadap kasus terorisme yang melibatkan anak-anak. Anak-anak adalah masa depan bangsa, karenanya kita perlu menjaga dan memastikan agar mereka dapat terus berkembang untuk berbagai kebaikan di masa mendatang.

Mungkin, kejahatan memang tidak bisa dihilangkan, tetapi bisa dilawan.

 


Penulis :
AKBP Didik Novi Rahmanto, M.H
Anggota Satgas Penindakan BNPT.
Sedang menempuh studi Doktoral di Departemen Kriminologi UI.