Pendiri Wahid Foundation Nilai Agama Harusnya Jadi Solusi Konflik

"Kalau ada Pilkada atau Pilpres lakukan dengan cara yang sopan dan halus. Tapi sayang sekali atas nama agama dia mendiskreditkan kelompok lain dan merasa dirinya jauh lebih baik dan lebih benar," kata profesor yang karib disapa Mr Greg.

BERBAGI
Greg Barton
Salah satu pendiri Wahid Foundatuon, Gregorius James Barton.

Redaksikota – Dr Gregorius James Barton yang merupakan salah satu pendiri lembaga Wahid Foundation mengaku bahwa dirinya sangat kagum dengan Indonesia. Dimana keberagaman suku, agama, ras dan antar-golongan tidak menjadi penghambat jalannya kehidupan berbangsa dan bernegara selama ini.

Bahkan ia sangat mengagumi bahwa beberapa agama yang ada di Indonesia justru menjadi sebuah entitas yang sangat penting untuk persatuan dan kesatuan ummat.

Maka dari itu ia memandang bahwa memang tidak semestinya agama dijadikan alat untuk kepentingan politik praktis yang justru bersifat desdruktif dan memecah belah ummat itu sendiri. Padahal demokrasi pun menjadi salah satu ajaran yang diserukan oleh seluruh agama apapun.

“Kalau ada Pilkada atau Pilpres lakukan dengan cara yang sopan dan halus. Tapi sayang sekali atas nama agama dia mendiskreditkan kelompok lain dan merasa dirinya jauh lebih baik dan lebih benar,” kata profesor yang karib disapa Mr Greg ini di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (12/1/2018).

Bahkan ia juga mengaku merasa kagum dengan demokrasi yang dijalankan di Indonesia. Dengan begitu banyaknya keberagaman yang ada, konflik yang terjadi pun cukup cepat sekali diatasi. Bahkan melalui berbagai pendekatan agama yang arif, beberapa konflik yang ada bisa cepat reda.

Kondisi ini pun ternyata membuka mata Greg yang notabane adalah sahabat dekat mendiang Almarhum Gus Dur bahwa keberadaan agama dana sistem demokrasi yang dijalankan di Indonesia sangat baik.

“Bagi saya ini bukti ada hubungan ada agama yang diterapkan dengan hal-hal yang lebih besar seperti pemerintahan,” ujarnya.

Selain itu, Greg yang juga the Global Terrorism Research Centre (GTReC) ini mengatakan bahwa sangat tidak dibenarkan agama dijadikan alat kepentingan untuk merebut kekuasaan politik secara praktis. Bahkan tindakan hal itu sekali lagi ditegaskannya sangat tidak dibenarkan. Karena itu ia mengingatkan kepada masyarakat bahwa pada dasarnya konteks agama yang dipakai dalam merebut kekuasaan itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan agama, melainkan kepentingan politik kelompok tertentu semata.

“Kita harus sadar berkali-kali terjadi upaya untuk melawan kelompok lain pakai alasan bukan karena agama tetapi karena ada kepentingan lain. Contoh soal Pilkada,” tutur Greg.

Karena pada dasarnya dalam ranah demokrasi perbedaan itu adalah hal yang sangat lumrah. Pun perbedaan yang terjadi seluruh kubu harus saling menghormati satu dengan yang lainnya, termasuk tidak memaksakan orang lain untuk mengikuti keputusan politiknya.

“Dalam demokrasi harus saling menghormati. Dan agama yang benar tidak akan menyebarkan ujaran saling membenci dalam mengkritik,” tegasnya.

Belajar jadi orang saleh dari Gus Dur

Untuk melihat betapa besarnya Indonesia dalam menjaga peradabannya dengan melibatkan agama dalam ranah yang jauh lebih besar itu ternyata diakui Greg bisa dilihat dari sosok mendiang sahabat dekatnya itu.

“Saya lihat Gus Dur, bahwa agama itu merupakan sesuatu yang penting bagi pribadi, merupakan sebuah sumber yang prima. Tapi semua itu hanya bisa dicapai jika diterapkan dengan prinsip-prinsip agama yang benar dalam kepribadian,” terangnya.

Kemudian yang tak kalah luar biasa dikatakan Greg adalah kesalehan. Orang akan sangat mudah menghindari konflik besar dalam sosial termasuk dalam ranah bernegara sekalipun kuncinya adalah menjadi orang yang saleh. Dan semua itu ia pelajari dari sosok Gus Dur.

“Bahwa Gus Dur adalah orang yang sangat menginspirasi. Saya umat kristen, tapi sebagai orang yang beriman Gus Dur merupakan orang yang sangat menginspirasi saya. Gus Dur memberi contoh apa artinya agama yang benar. Dan ini sudah diterapkannya dalam kehidupan sehari-hari saya,” ujar Greg.

Wujud yang paling nyata dikatakan Greg adalah sosok Gus Dur yang mampu menempatkan diri di berbagai situasi apapun. Inilah yang membuat siapapun yang berada di dekat Gus Dur merasa nyaman dan tenang.

“Ada orang datang ke Gus Dur bisa tertawa dan bisa juga serius. Gus Dur adalah orang yang saleh, karena dia bisa menikmati hidupnya. Maka jadilah orang saleh,” terang Greg.

Hindari konflik sektarian

Lebih lanjut, Greg juga mengatakan bahwa bangsa Indonesia khususnya harus benar-benar bisa menghindari konflik sektarian. Maka dari itu, ia menyerukan agar bangsa Indonesia lebih memperkaya literasi agar memahami apa yang menjadi persoalan di kalangan masyarakat sendiri.

“Sekterainisme ada beberapa unsur, salah satu karena orang tidak tahu. Mereka tidak memahami beberapa hal yang dibayangkan. Karena banyak orang yang tidak paham, dibayangkan ada sesuatu yang salah maka dia dihantui prasangka buruk dan akhirnya dia membenci hal itu,” jelas Greg.

“Kalau mau lebih memahami sesuatu, (maka) perbanyaklah membaca dan bergaul lebih banyak dengan ragam orang,” tambahnya.