Diaz Hendropriyono Ajak Kembalikan Nasionalisme Bangsa Indonesia yang Mulai Terkikis

"Menurunnya tingkat nasionalisme juga ditunjukkan dengan adanya peristiwa intoleransi, seperti pembakaran gereja di Aceh Singkil, pembakaran Vihara di Tanjung Balai serta Pembakaran Mushola di Tolikara," terangnya.

BERBAGI
Diaz Hendropriyono
Staf Khusus Presiden, Diaz Hendropriyono.

Redaksikota – Staf Khusus Presiden, Diaz Hendropriyono menilai bahwa saat ini cinta terhadap tanah air alias nasionalisme bangsa Indonesia sudah mulai terkikis. Hal ini disampaikannya lantaran berdasarkan survei bahwa ada 4% bangsa Indonesia yang ternyata mendukung gerakan ekstremis Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

“Menurut survey, ada 4% penduduk Indonesia yang mendukung ISIS. Meski terlihat kecil tetapi jika dibandingkan dengan 250 juta penduduk Indonesia merupakan angka yang besar,” kata Diaz dalam Seminar Nasional Agama dan Kebudataan bertemakan “Strategi Kebudayaan: Dialog Agama dan Kebudayaan untuk Indonesia Berkemajuan” yang digelar oleh Komunitas Muda Nusantara di UIN Syarif Hidayatullah, Tangerang Selatan, Kamis (7/12/2017).

Bukti sudah mulai tergerusnya rasa nasionalisme pada diri bangsa Indonesia salah satunya adalah maraknya intoleransi. Tenggang rasa dan saling menghormati antar perbedaan yang ada di Indonesia terus terlihat, dan salah satunya pula adalah pembakaran rumah ibadah antar ummat beragama.

“Menurunnya tingkat nasionalisme juga ditunjukkan dengan adanya peristiwa intoleransi, seperti pembakaran gereja di Aceh Singkil, pembakaran Vihara di Tanjung Balai serta Pembakaran Mushola di Tolikara,” terangnya.

Selain intoleransi, putra tokoh intelijen AM Hendropriyono tersebut juga mengatakan indikator lain mulai terkikisnya nasionalisme bangsa Indonesia adalah rasa individualisme yang mulai meningkat. Dan menurut Diaz, salah satu penyebabnya adalah rendahnya tingkat kebersamaan antar masyarakat dalam beraktivitas sosial maupun adanya faktor perkembangan teknologi.

“Perkembangan zaman dan revolusi teknologi juga meningkatkan individualisme. Dulu nonton TV di rumah pak RT sekarang nonton TV sendiri-sendiri. Dulu rapat berkumpul di alun-alun, sekarang melalui grup Whatsapp,” ujarnya.

Agama Jadi Pemersatu

Kemudian Diaz menyerukan agar persatuan dan kesatuan Indonesia harus terus dikembalikan ruhnya dengan pendekatan agama, sehingga persoalan agama bisa menjadi pengikat nasionalisme bangsa Indonesia secara lebih luas bukan malah dialih-fungsikan menjadi alat politik yang justru semakin memperparah persatuan dan kesatuan serta nasionalisme bangsa Indonesia itu sendiri.

“Agama seharusnya dijadikan sebagai alat pemersatu, bukan sebagai alat politik. Agama juga bisa berdampak positif secara nyata di kehidupan dunia, tidak hanya akhirat. Contohnya di Indonesia sumbangan perekonomian akibat mudik bisa mencapai Rp 32 triliun,” kata Diaz.

“Untuk meningkatkan hubungan yang harmonis secara global, membutuhkan keadaan yang harmoni secara domestik terlebih dahulu dengan meningkatkan nasionalisme,” imbuhnya.

Budaya Menang Sendiri

Dalam kesempatan yang sama, Presiden Asosiasi Mahasiswa Internasional UIN Syarif Hidayatullah, Safee Peters mengatakan bahwa munculnya konflik sosial dewasa ini lantaran semakin masifnya gerakan main menang sendiri dan merasa paling benar.

“Konflik muncul karena masyarakat menolak memahami budaya lain dalam sebuah sistem masyarakat yang beragam. Konflik juga muncul karena masyarakat terkadang menganggap budayanya lebih baik dibanding budaya lainnya, yang sering disebut dengan stereotipe,” kata Safee.

Maka dari itu, Safee menilai bahwa salah satu alat pemersatu yang sangat luar biasa adalah agama. Baginya, agama dapat dijadikan sebuah spektrum pemersatu bangsa dan melunakkan konflik sosial yang saat ini semakin besar.

“Agama dapat menjadi jawaban bagi permasalahan ini, dapat membantu masyarakat menerima keberagaman dan membuka diri terhadap kebudayaan lain. Agama dapat membantu masyarakat mengapresiasi budaya lain dan menghilangkan potensi konflik,” terangnya.

Hanya saja ia memberikan catatan besar, bahwa keberhasilan agama sebagai alat pemersatu bangsa harus disterilkan dari upaya penggunaan agama sebagai alat politik dan alat kepentingan kekuasaan kelompok tertentu.

“Tetapi sebelum menjadi solusi, agama harus berhenti menjadi permasalahan dan juga terbuka terhadap keberagaman,” tegasnya.

Video Aksi Bela Palestina di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat :
Video Aksi Bela Palestina di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat :