Kemenlu Masih Tunggu Informasi dari Kepolisian Amerika Soal Johannes Marliem

BERBAGI

Redaksikota – Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha Nasir mengatakan bahwa pihaknya masih belum mendapatkan informasi terkait dengan kasus tewasnya saksi kunci kasus e-KTP, Johannes Marliem dari otoritas kepolisian Amerika Serikat.

“Belum ada (informasi pasti), kami masih menunggu karena yang bisa menentikan adalah kepolisian sana. Kita menunggu informasi dari mereka,” kata Arrmanatha kepada wartawan hari ini, Senin (14/8/2017).

Pun demikian, Arrmanatha mengatakan bahwa kepolisian Amerika Serikat akan segera menyampaikan hasil pengembangan kasus tewasnya Johannes Marliem itu.

“Mereka mengatakan akan menyampaikan informasinya,” pungkasnya.

Diketahui, Johannes Marliem ditemukan tewas dengan luka tembak di kepalanya di sebuah perumahan di 600 block of North Edinburgh Avenue di Beverly Grove, Los Angeles, California, Amerika Serikat, Kamis (10/8/2017) malam waktu setempat.

Peran Johannes Marliem dalam Kasus e-KTP

Nama Johannes Marliem tertulis dalam surat dakwaan milik terdakwa Irman dan Sugiharto. Marliem disebut pernah bertemu Diah Anggraini, Andi Agustinus alias Andi Narogong, Husni Fahmi,dan Chaeruman Harahap. Pertemuan itu terjadi pada Oktober 2010 di Hotel Sultan Jakarta.

Saat itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Diah Anggraini memperkenalkan terdakwa Irman dan Sugiharto kepada Johannes Marliem selaku provider produk Automated Finger Print Identification Sistem (AFIS) merek L-1, yang akan dipergunakan dalam proyek penerapan KTP berbasis NIK secara nasional (KTP elektronik atau e-KTP).

Johannes Marliem pun diarahkan oleh Irman untuk berhubungan dengan ketua tim teknis, yakni Husni Fahmi. Dia juga pernah bertemu Tim Fatmawati.

Dalam surat dakwaan, Johannes Marliem disebut memberikan uang US$ 200 ribu (Rp 2,6 miliar) kepada terdakwa Sugiharto di Mall Grand Indonesia Jakarta. Oleh Sugiharto, uang tersebut kemudian dipakai untuk membeli mobil Honda Jazz.

Jaksa penuntut umum (JPU) KPK mengatakan, uang yang diberikan oleh Johannes adalah bagian dari keuntungan yang didapat dari proyek e-KTP senilai USD 16.431.400 dan Rp 32,9 miliar.

Saat kasus e-KTP bergulir, Marliem sudah berada di Amerika Serikat. Dia adalah Direktur Biomorf Lone LLC, Amerika Serikat.

Untuk itulah, Marliem disebut sebagai saksi kunci karena memiliki bukti pembicaraan dengan para penggarap proyek e-KTP. Dia juga disebut memiliki bukti rekaman pertemuannya dengan Ketua DPR RI Setya Novanto.