Kapolri “Haramkan” Aksi di Borobudur

BERBAGI
Kapolri

Redaksikota – Kepala kepolisian Republik Indonesia, Jenderal Polisi Tito Karnavian menegaskan bahwa sangat tidak diizinkan untuk menggelar aksi solidaritas Rohingya di objek wisata Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

“Aksi (di) Borobudur Dilarang,” tegas Kapolri Jenderal Tito di hadapan wartawan, Rabu (6/9/2017).

Bahkan ia sudah memerintahkan kepada Kapolda Jawa Tengah untuk tidak memberikan ruang kepada siapapun untuk menggelar aksi di lokasi Candi bersejarah itu.

“Saya sudah perintahkan Kapolda Jawa Tengah, jangan diizinkan. Caranya, jangan menerima surat pemberitahuan (aksi),” tukas Kapolri.

Larangan tersebut disampaikan jenderal polisi bintang empat itu, lantaran Candi Borobudur merupakan objek vital, bahkan salah satu objek dari tujuh keajaiban dunia yang sangat dijaga kelestariannya.

“(Borobudur) ini objek vital, tempat (wisata) turis internasional. Kemudian menjadi world heritage,” terang Kapolri.

Gubernur Ganjar Larang Aksi di Borobudur
Sebelumnya, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo juga mengatakan, bahwa berdasarkan keputusan Kapolda Jawa Tengah Irjen Ppl Condro Kirono, bahwa aksi tersebut tak boleh dilakukan di kawasan candi peninggalan dinasti Syailendra tersebut.

Meskipun demikian, menurut Ganjar, pihaknya tetap mempersilakan sejumlah Ormas Islam menggelar aksi. Politikus PDIP itu tak ingin, konflik yang terjadi di negara orang itu, justru memunculkan isu keagamaan di Indonesia.

“Maksud saya, biar nggak ada isu keagamaan di Indonesia. Nanti, kita akan menampung apa kehendak mereka yang akan menyampaikan aspirasi,” kata Ganjar di Jakarta, Selasa (5/9/2017).

Ganjar menyatakan, pihaknya sudah duduk bersama dengan perwakilan Forum Komunikasi Umat Buddha (FKUB). Menurut dia, perwakilan umat Buddha pun setuju dengan aksi solidaritas untuk etnis Rohingya yang mendapat kekerasan dari militer Myanmar.

Perlu diketahui, bahwa sejumlah organisasi masyarakat (ormas) serta laskar di Magelang dan daerah sekitar berencana menggelar aksi Bela Rohingya di Borobudur, Jumat (8/9/2017) mendatang.

Ajakan aksi tersebut selama beberapa hari terakhir telah menyebar melalui broadcast pesan dan media sosial.

Koordinator Aksi, Anang Imamudin mengatakan, pihaknya kini tengah memproses semua pemberitahuan dan izin.

“Terkait tempat mohon diperjelas, kami tidak melakukan aksi di Candi Borobudurnya, kami aksi di wilayah sekitar candi. Karena kami tahu aturan bahwa candi adalah situs purbakala yang dilindungi,” jelas Anang dikutip dari detikcom, Senin (4/9/2017).

Anang juga mengatakan, untuk lokasi tepat pelaksanaan aksi, sampai saat ini masih dibicarakan dengan aparat keamanan dan pihak terkait. 

Dipilihnya kawasan Borobudur menurutnya bukan tanpa alasan. 

“Maka dengan kita berorasi di Borobudur, justru menujukan sikap dewasa kaum muslimin Indonesia, meski mayoritas muslim tempat ibadah kaum Buddha pun masih aman dan justru di pelihara. Hal itu untuk mematahkan apa yang mereka sangkakan, bahwa muslim itu teroris. Dan membuktikan pada dunia, muslim itu bisa bersikap bijaksana,” ungkap Anang.