Ketika Stafsus Presiden Bicara Soal Percepatan Teknologi Hingga Sampah

BERBAGI

Redaksikota – Pemuda harus memiliki peran utama untuk membawa perubahan, termasuk merubah paradigma berpikir masyarakat mengenai sampah di Indonesia.

Hal ini disampaikan oleh Staf Khusus Presiden, Diaz Hendropriyono pada saat memberikan keynote speech di dalam acara bertajuk Indonesian Youth Marine Debris Summit di Putri Duyung Cottage, Ancol, Jakarta pada hari Rabu (25/10/2017).

Diaz kembali menekankan apa yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo, bahwa dunia sedang mengalami perubahan yang sangat cepat, yang khususnya didorong karena kemajuan teknologi.

Untuk itu, ia pun menekankan kepada bangsa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan, untuk tetap bisa mengikuti perkembangan jaman itu.

“Di era yang kompetitif seperti sekarang ini, semua pihak harus cepat menghadapi perubahan di dunia apabila tidak ingin tertinggal oleh bangsa lain,” kata Diaz dalam kesempatan tersebut.

Selain itu, persoalan selanjutnya adalah tentang sampah. Diaz memandang bahwa permasalahan sampah saat ini sudah sangat akut sehingga menghambat kompetensi dan kapasitas bangsa Indonesia untuk bersaing di panggung internasional menjadi yang “tercepat” di era yang semakin berubah.

Bahkan menurutnya, lebih dari 64 persen sampah di Indonesia masih belum terolah dengan baik, apalagi negara-negara berkembang dan maju lainnya sudah melakukan daur ulang sampah untuk kepentingan lain, termasuk penambah sektor ekonomi.

“Volume sampah yang mencapai sekitar 64 juta ton per tahun masih belum diolah secara optimal, baik untuk mengurangi polusi maupun memberikan nilai tambah ekonomi,” ujarnya

Lebih lanjut, Diaz menekankan pentingnya menjaga kebersihan laut Indonesia dengan meninggalkan paradigma lama kumpul-angkut-buang, menjadi reduce, reuse, and recyle. Dengan kata lain, pengelolaan sampah akan lebih baik ditangani di hulu dengan mengurangi sampah daripada mencoba mencari solusi untuk mengolah sampah yang ada.

Ia mengingatkan bahwa 8 dari 10 destinasi unggulan nasional merupakan destinasi berbasis bahari. Namun, di saat yang sama, sekitar 80% dari sampah yang berada di laut merupakan sampah yang berasal dari daratan, yang jelas menghambat pencapaian prioritas pemerintah di bidang pariwisata.

Sebagai penutup, ia menekankan bahwa penanganan sampah ini bukan hal kecil, dan merupakan hal yang sangat strategis yang akan menentukan apakah kita survive atau tertinggal dari bangsa-bangsa lain.

Acara yang diadakan oleh Divers Clean Action tersebut dihadiri oleh Direktur Pengelolaan Sampah Kementrian Lingkungan Hidup Sudirman, Asisten Deputi bidang Iptek Kemenko Maritim Nani Hendiarti, ratusan pemuda dari berbagai provinsi yang tergabung dalam komunitas-komunitas penyelam.

Adapun acara yang terselenggara berkat dukungan dari APMI (Asosiasi Pemuda Maritim Indonesia), Gerakan Indonesia Bebas Sampah 2020, dan oleh MASI (Masyarakat Selam Indonesia), bertujuan untuk merubah gagasan menjadi aksi, agar para pemuda bertemu untuk mencoba mencari solusi permasalahan sampah laut.