Anies Ingin Jakarta Bebas Difteri Sebelum Asean Games 2018

BERBAGI

Redaksikota – Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan menegaskan bahwa Jakarta harus bebas dari virus difteri sebelum perhelatan Asean Games 2018 digelar.

“Kita harapkan sebelum Asian Games, Jakarta sudah bebas dan aman dari difteri. Kasus difteri banyak terjadi di wilayah Jakarta Utara pada usia -15 tahun,” ujar Anies saat gelar sosialisasi penanggulangan Difteri di SMAN 33 Cengkareng, Jakarta Barat, seperti mengutip Antara, Senin (11/12/2017).

Menurut Gubernur Anies, dalam empat tahun terakhir ada 25 kasus difteri di Jakarta dan kegiatan Outbreak Response Immunization (ORI) dimulai di Jakarta Utara dan Jakarta Barat.

Diketahui, sosialisasi Gubernur Anies bersama dengan Menteri Kesehatan Nila Moloek hari ini mendapatkan sambutan yang baik dari para siswa SMA Negeri 33 Jakarta Barat. Program ORI dilakukan dengan kerja sama lintas sektor melibatkan diantaranya Diskominfomas, Dinas Sosial, RT, RW dan Kader Kesehatan.

Sasaran ORI Jakarta Utara dan Jakarta Barat berjumlah 1.238.283 jiwa. ORI dilakukan di seluruh sekolah TK, PAUD, SD/MI, SMP/MTS serta perguruan tinggi. (*)


Apa itu Difteri?
Difteri adalah infeksi bakteri yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta terkadang dapat memengaruhi kulit. Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa.

Menurut World Health Organization (WHO), tercatat ada 7.097 kasus difteri yang dilaporkan di seluruh dunia pada tahun 2016. Di antara angka tersebut, Indonesia turut menyumbang 342 kasus. Sejak tahun 2011, kejadian luar biasa (KLB) untuk kasus difteri menjadi masalah di Indonesia. Tercatat 3.353 kasus difteri dilaporkan dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2016 dan angka ini menempatkan Indonesia menjadi urutan ke-2 setelah India dengan jumlah kasus difteri terbanyak. Dari 3.353 orang yang menderita difteri, dan 110 di antaranya meninggal dunia. Hampir 90% dari orang yang terinfeksi, tidak memiliki riwayat imunisasi difteri yang lengkap.

Difteri termasuk salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dan imunisasi terhadap difteri termasuk ke dalam program imunisasi wajib pemerintah Indonesia. Imunisasi difteri yang dikombinasikan dengan pertusis (batuk rejan) dan tetanus ini disebut dengan imunisasi DTP. Sebelum usia 1 tahun, anak diwajibkan mendapat 3 kali imunisasi DTP. Cakupan anak-anak yang mendapat imunisasi DTP sampai dengan 3 kali di Indonesia, pada tahun 2016, sebesar 84%. Jumlahnya menurun jika dibandingkan dengan cakupan DTP yang pertama, yaitu 90%.

Gejala Difteri :
Difteri umumnya memiliki masa inkubasi atau rentang waktu sejak bakteri masuk ke tubuh sampai gejala muncul 2 hingga 5 hari. Gejala-gejala dari penyakit ini meliputi:

Terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.
Demam dan menggigil.
1. Sakit tenggorokan dan suara serak.
2. Sulit bernapas atau napas yang cepat.
3. Pembengkakan kelenjar limfe pada leher.
4. Lemas dan lelah.
5. Pilek. Awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang bercampur darah.

Difteri juga terkadang dapat menyerang kulit dan menyebabkan luka seperti borok (ulkus). Ulkus tersebut akan sembuh dalam beberapa bulan, tapi biasanya akan meninggalkan bekas pada kulit.

Segera periksakan diri ke dokter jika Anda atau anak Anda menunjukkan gejala-gejala di atas. Penyakit ini harus diobati secepatnya untuk mencegah komplikasi. (sumber : http://www.alodokter.com/difteri)