BERBAGI
Yusuf Mansur
Sumber : Instagram/yusufmansurnew

Redaksikota – Bos Paytren, Ustadz Yusuf Mansur tampaknya bukannya susah mendapatkan serangan dari seseorang karena dilaporkan polisi ke Polda Jawa Timur karena dugaan kasus penipuan. Melalui akun Instagramnya, Yusuf Mansur pun mengatakan sangat bersyukur dengan peristiwa itu.

“Saya malah berterima kasih kepada Pelapor. Bener2 berterima kasih. Terima kasih Pak Darso dkk,” tulis Yusuf Mansur di akun @yusufmansurnew, Jumat (16/6/2017).

Bahkan pengasuh Pondok Pesantren Daarul Quran ini pun mengibaratkan pelaporan dirinya terkait dugaan kasus penipuan itu, sebagai bagian dari drama akan datangnya rezeki yang melimpah kepadanya.

Sebelumnya, Yusuf Mansur mengisyaratkan jika potensi datangnya rezeki akan semakin dekat setelah munculnya pelaporan tersebut.

“Allah, sebagai Yang Punya Rizki, mau datangin banyak rizki ke saya, Yusuf Mansur, yang terlahir dg nama hebat dg Izin Allah, pemberian orang tua: Jam’an Nurchotib Mansur,” ujar Yusuf Mansur.

“Dan Allah Maha Tahu, saya ga sanggup bersih2. Ga sanggup ngepel diri sendiri, ga sanggup nyapu diri sendiri. Maka Allah Turunkan Bantuan. Allah Pilih Hamba2Nya menjadi alat untuk membersihkan saya. Menyapu dan mengepel saya,” imbuhnya.

Diketahui, seorang pria bernama Sudarso Arief Bakuma telah resmi melaporkan Ustadz Yusuf Mansur ke Polda Jawa Timur. Warga Surabaya tersebut mengaku telah menjadi korban penipuan dan penggelapan dana investasi Condotel Moya Vidi.

Ia bahkan mengatakan bahwa ada empat orang yang mengalami kasus yang sama dengan dirinya itu. Kemudian Sudarso mengatakan jika orang-orang yang mengaku senasib dengan dirinya juga akan melakukan langkah yang sama.

“Di antaranya baru ada empat korban dari Surabaya dan menguasakan kepada kami untuk membawa kasus ini ke kepolisian,” kata Sudarso kepada wartawan setelah melaporkan ke SPKT Polda Jatim, Jalan A Yani, Surabaya, Kamis (15/6/2017).

Lebih lanjut, Sudarso mengatakan jika program investasi Kondetel di Yogyakarta tersebut tidak kunjung terealisasikan. Bahkan ia mengatakan rata-rata korban dari program investasi tersebut ada yang memiliki sertifikat dengan nilai Rp2,75 juta.