BERBAGI
Wawan Hari Purwanto
Direktur Komunikasi dan Informasi Badan Intelijen Negara (BIN), Wawan Hari Purwanto (foto : kompas).

Redaksikota – Direktur Komunikasi dan Informasi Badan Intelijen Negara (BIN), Wawan Hari Purwanto menjelaskan, bahwa sebenarnya selama ini aparat selalu memantau pergerakan para terduga teroris. Namun, karena tak ada aturan yang melandasi, aparat tak bisa melakukan penangkapan sebelum ada bukti yang kuat kuat.

Para terduga teroris hanya bisa diawasi, tanpa bisa ditangkap sebelum terindikasi kuat akan melakukan aksi, atau bahkan setelah melakukan aksi. Oleh karena para terduga teroris sebenarnya diawasi, begitu ada kejadian, aparat bisa dengan mudah menangkap pihak-pihak yang diduga terkait. Bahkan ia mengatakan jika lokasi persembunyian para terduga teroris ini sebenarnya sudah diketahui, hanya saja aksi penangkapan tidak bisa serta merta dilakukan lantaran memang belum ditemukan bukti.

Semua sudah dipantau, begitu melakukan aksi, baru ditindak dan semua cepat. Banyak orang yang menanyakan kenapa pihak berwajib cepat mengungkap terduga pelaku, karena semua sudah dipantau,” ujar Wawan dalam sebuah diskusi di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (3/6/2017).

Hal ini pun disampaikan Wawan mengingat banyaknya masyarakat yang justru menyebutkan, jika serangkaian aksi terorisme di Indonesia merupakan hasil rekayasa belaka. Namun begitu, Wawan pun mengakui jika pihaknya sangat tidak bisa memungkiri kalau ada saja suara sumbang di balik aksi aparat memberantas terorisme itu.

Misalnya saja saat ledakan di Kampung Melayu pada 24 Mei lalu, keberhasilan aparat menangkap sejumlah orang terkait aksi terorisme itu ada yang menganggapnya sebagai rekayasa. Mengapa bisa teroris ditangkap sedemikian cepat. Jelas bahwa Wawan menyebutkan jika semua gerak-gerik teroris sudah termonitor dengan baik oleh aparat, baik dari TNI, Polri maupun BIN sendiri. Hanya saja lagi-lagi regulasi yang membatasi itu sehingga menunggu barang bukti terlebih dahulu baru penangkapan bisa dilakukan.

“Akhirnya orang nuduh ini rekayasa. Bukan, tapi kan sudah diawasi sebelumnya,” imbuh Wawan.

Mengapa baru bergerak setelah ada aksi? Wawan menjelaskan intel-intel tak boleh gegabah memberi informasi dan rekomendasi. Karier bisa terancam jika informasi yang diberikan tak sahih atau ujung-ujungnya sulit dibuktikan.

“Kalau salah berbuntut karier bermasalah,” ujar Wawan.

Bukti untuk menindak juga harus kuat. Aparat tak bisa asal bertindak, tak ada aturan yang membolehkan.

“Sebelum kejadian, kita tidak bisa membuktikan. Makanya, begitu penangkapan dan lain-lain, kita saling tuduh. Makanya kita ingin, agar tidak tuduh-menuduh, diberi kewenangan yang jelas,” ujar Wawan.