BERBAGI
Kekerasa Wartawan
*ilustrasi

Redaksikota – Kepala Biro Hubungan Masyarakat (Humas) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Endra S Atmawidjaja menyampaikan surat permohonan maaf kepada Pimpinan Redaksi Rakyat Merdeka Online (RMOL) atas peristiwa kekerasan yang dilakukan oleh petugas protokolernya kepada reporter bernama Bunaiya Fauzi Arubone.

Dalam surat permohonan maafnya tersebut, pihaknya menyatakan sangat menghargai kinerja dan profesi jurnalis, apalagi profesi tersebut memiliki keterkaitan dengan bidang kehumasan khususnya di instansinya itu.

“Kementerian PUPR sangat menghargai peran dan tugas para jurnalis/wartawan sebagai mitra kerja dalam bidang kehumasan,” tulis Endra, Rabu (31/5/2017).

Kemudian pada poin kedua, ia juga menegaskan jika instansinya sangat menjaga dan melindungi hak-hak para wartawan dalam menjalankan tugasnya, seperti yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Pun demikian, ia menyampaikan jika ada kesalahpahaman yang terjadi antara pegawainya dengan reporter RMOL tersebut, sehingga insiden yang ramai diperbincangkan itu terjadi.

“Atas peristiwa yang mengakibatkan terganggunya tugas jurnalistik yang dialami oleh jurnalis/wartawan RMOL a.n Saudara Bunaiya Fauzi Arubone, kami menilai hal ini sebagai kesalahpahaman dan untuk itu, kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya,” tukasnya.

Kesalahpahaman yang Dibudayakan?
Kejadian berlangsung di Ruang Serbaguna lantai 17, Gedung Utama Kementerian PUPR, setelah adzan magrib tadi, Rabu (31/5/2017).

Ketika itu Menteri Basuki Hadimoeljono hendak membagi-bagikan plakat di acara pengukuhan pengurus Badan Kejuruan Teknik Lingkungan Persatuan Insinyur Indonesia periode 2017-2020.

Saat itu, Bunaiya mengaku hendak memfoto menteri. Di saat bersamaan, seorang petugas protokoler memintanya minggir karena hendak menaruh gelas. Bunaiya yang sedang menjalankan tugas meminta izin untuk mengambil foto lebih dahulu sebelum menyingkir. Tetapi, kata makian yang ia dapat.

“Saya bilang sebentar bang belum dapat foto bagus. Tapi orang protokol PUPR itu bilang ‘monyet nih anak’,” cerita Bunaiya.

Bunaiya yang tidak terima dihina kemudian menanyakan maksud orang tersebut. Tapi petugas protokoler itu malah mencekik sembari mendorongnya ke luar ruangan.

“‘Gue protokoler sini. Lu jangan macam-macam‘, dia bilang gitu sambil cekik dan dorong saya keluar ruangan,” lanjut Bunaiya.

Tak hanya itu, petugas protokoler PUPR itu mengelilingi Bunaiya bersama pelayan dan petugas keamanan seolah hendak menangkap penjahat kriminal. Ia pun memegang kartu pers milik Bunaiya.

“Bodo amat lu dari Rakyat Merdeka kek. Terus salah satu pelayan membentak saya untuk keluar dari ruangan. Saya juga dituduh wartawan abal-abal,” ungkap Bunaiya.

Dia kemudian digiring dua orang petugas keamanan PUPR ke lift sambil terus memarahinya.

“Saya sudah bilang pekerjaan wartawan dilindungi undang-undang dan mereka tidak bisa melarang saya begitu caranya. Tapi mereka tidak peduli,” ucap Bunaiya.