BERBAGI

Redaksikota – Juru bicara Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Kahar S. Cahyono menyatakan bahwa pihaknya baik dari FSPMI maupun KSPI sendiri tidak ingin ambil pusing terkait dengan pemberitaan, yang mendiskreditkan Said Iqbal sebagai Presiden KSPI, tentang kepemilikan rumah mewahnya itu.

Menurutnya, pemberitaan jika Iqbal menggunakan dana iuran buruh untuk membangun rumah pribadinya itu tidak benar sama sekali, dan hanya fitnah belaka.

“Fitnah seperti ini tidak hanya terjadi kali ini. Bahkan sudah dilakukan sejak tahun 2012. Tujuannya adalah untuk melemahkan perjuangan kaum buruh dengan harapan kepercayaan anggota/buruh kepada pemimpinnya hilang,” kata Kahar dalam keterangan persnya yang diterima Redaksikota, Jumat (5/5/2017).

Kahar pun menyatakan dana iuran anggotanya di seluruh Indonesia tidak dipergunakan untuk kepentingan pribadi pengurus termasuk Presiden KSPI saat ini, Said Iqbal. Hal ini disampaikan oleh Kahar, bahwa anggaran yang masuk dan keluar dari KSPI juga selalu diaudit oleh lembaga independen.

“Iuran serikat pekerja FSPMI dan KSPI diaudit oleh akuntan publik. Setiap tahun, keuangan FSPMI selalu diaudit oleh akuntan publik yang tersumpah,” terang Kahar.

Bahkan hasil audit lembaga akuntan publik tersebut juga bisa diakses oleh seluruh anggota KSPI dan FSPMI. Pun demikian pula, keuangan iuran anggota juga dilaporkan secara berkala dalam kegiatan Rapat Pimpinan dan Kongres.

“Selain diaudit, iuran serikat pekerja dipertanggungjawabkan sesuai mekanisme organisasi dalam Rapat Pimpinan (Rapim) dan Kongres,” imbuhnya.

Pembagian Anggaran Iuran Buruh
Selanjutnya, Kahar pun menyampaikan jika iuran anggota yang dikumpulkan dari seluruh anggotanya di seluruh Indonesia tersebut memang akan dipotong sebesar 12,5%. Namun pemotongan anggaran ini lagi-lagi bukan untuk kepentingan Presiden semata, melainkan untuk didistribusikan ke seluruh pimpinan wilayah baik di Provinsi maupun di Kabupaten untuk honor staf organisasi.

“12,5% untuk membayar honorarium staff full timer organisasi yang tersebar di 25 provinsi dan 150 Kabupaten/Kota,” kata Kahar.

Sementara itu, 60% kemudian juga akan dipangkas dan lagi-lagi bukan untuk kepentingan pribadi Presiden Said Iqbal sendiri, melainkan untuk kepentingan mengjalankan dan menghidupkan organisasi baik di tingkat provinsi maupun Kabupaten atau Kota.

“60% didistribusikan ke seluruh Dewan Pimpinan Wilayah, Pimpinan Cabang, dan Konsulat Cabang di seluruh Indonesia, di 25 propinsi dan 150 kab/kota untuk menjalankan kegiatannya,” lanjut Kahar.

Sementara seluruh sisanya akan digunakan untuk kegiatan rutin nasional baik dalam bentuk rapat maupun konsolidasi dan pendidikan.

“Dan sisanya untuk berbagai kegiatan, seperti rapat rutin nasional, konsolidasi di daerah-daerah, dan pendidikan swadaya dan lain-lain,” tegasnya.

Dari Mana Iqbal Bisa Bangun Rumah Mewah ?
Lantas bagaimana Iqbal bisa memiliki aset rumah yang begitu fantastis hinga disebut-sebut senilai Rp4 miliar itu. Kahar pun menyampaikan jika memang Iqbal sendiri memiliki aset yang nilainya sangat tinggi.

Apalagi dikatakan Kahar, Governing Body alias Pengurus Pusat ILO ini juga baru saja menerima dana pensiun di tempat dimana Iqbal sempat bekerja. Bahkan nilainya juga sangat fantastis, hanya saja ia enggan menyebutkan berapa dana pensiun yang diterima Iqbal tersebut.

“Said Iqbal memiliki asset yang dimilikinya sejak 15 hingga 20 tahun lalu, yang baru-baru ini dijual dan harganya melonjak berkali-kali lipat karena letaknya yang strategis,” terang Kahar.

“Selain itu, Said Iqbal bisa membangun rumah karena baru saja menerima dana pensiun dini dari tempatnya bekerja dengan nilai yang sangat lumayan,” imbuhnya.