BERBAGI

Redaksikota – Ketua Bidang Perekonomian Rumah Gerakan 98, Hari Purwanto mengatakan bahwa peristiwa raibnya duit nasabah Bank Tabungan Negara (BTN) senilai Rp 258 miliar adalah persoalan serius.
Peristiwa tersebut dinilai Hari, ada kelemahan kinerja lembaga pengawas keuangan yakni Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam menjalankan fungsinya.

“Raibnya uang nasabah sebanyak Rp 258 miliar terjadi disaat era keterbukaan informasi yang sangat masif. Peran OJK yang semestinya sangat dipercaya dalam sektor keuangan belum menunjukkan kinerja yang maksimal,” kata Hari dalam siaran persnya yang diterima Redaksikota, Kamis (23/3/2017).

Berbagai tugas dan fungsi OJK sendiri sebagai lembaga kontrol terhadap berbagai aktivitas jasa keuangan di Indonesia, Hari mengatakan seharusnya insiden bobolanya dana nasabah di Bank berplat merah ini tidak terjadi.

“Melihat tujuan, tugas dan wewenang dari OJK maka layak dievaluasi keberadaannya, apalagi Bank BTN sebagai bank BUMN telah terdaftar langsung ke OJK,” tegasnya.

Lebih lanjut, eks aktivis 98 ini pun menegaskan jika jelas peristiwa hilangnya dana nasabah BTN tersebut adalah bentuk kegagalan OJK periode saat ini untuk menjalankan tugas dan amanat Undang-undang.

“Peristiwa pembobolan di bank BTN dengan raibnya uang sebanyak Rp 258 miliar, menjadi salah satu kegagalan dewan Komisioner OJK periode saat ini,” terangnya.

Selain kepada OJK, Hari juga memandang ada kelalaian terbesar direksi Bank BTN dalam menjalankan tugasnya pula, sehingga jajalan direksinya pun harus dievaluasi total oleh Pemerintah pusat.

“Menteri BUMN harus memecat direksi bank BTN karena gagal dalam menjalankan kinerja dalam menjaga nama baik pemerintah yang bergerak disektor perbankan,” tutupnya. [mib]