BERBAGI

Redaksikota – Konflik Kemanusian yang terjadi pada etnis rohingya di Myanmar masih terus berlanjut. Pihak militer telah melakukan pelanggaran HAM berat termasuk pemerkosaan, pemukulan, dan pembunuhan baik dewasa maupun anak-anak berdasakan hasil laporan Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia. Hampir 65.000 masyarakat etnis rohingya telah mengungsi ke Bangladesh setelah pecah konflik pada oktober 2016 lalu.

“Kekejaman dan kebrutalan militer Myanmar terhadap Muslim rohingya, sudah tidak manusiawi, mereka tidak hanya membunuh, tapi juga melakukan pemerkosaan, dan ini sudah tidak bisa ditoleransi, kejahatan kemanusiaan di Myanmar harus segera dihentikan,” ucap President Asean Muslim Students Association (AMSA), Sapwan Noor dalam siaran persnya yang diterima Redaksikota, Sabtu (18/2/2017).

Konflik di Myanmar bukan hanya permasalahan etnis namun juga konflik agama, politis dan ekonomis. Kebencian terhadap etnis rohingya yang mayoritas beragama muslim menunjukkan begitu besarnya Islamphobia di negara tersebut. Konflik antara etnis budha Burma Myanmar dengan etnis rohingya semakin pelik, ketika pihak pemerintah tidak menekankan pada rekonsiliasi namun mendukung gerakan pembantaian dengan mengirimkan militer ke daerah tempat tinggal masyarakat muslim rohingya.

Asean Muslim Students Association sangat menyayangkan sikap pemerintah Myanmar yang seakan membiarkan dan nyata telah membantu masyarakat etnis budha Burma untuk melakukan pembantaian terhadap etnis rohingya.

“Pemerintah Myanmar harus bertanggung jawab atas konflik yang terjadi, dan segera menarik pasukan militer dari daerah konflk, dan menghentikan pembantaian terhadap etnis rohingnya,” ujar Sapwan Noor.

Bahkan dalam laporan dari devisi HAM PBB atas hasil wawancara terhadap etnis rohingya, pihak militer dengan jumawa mengatakan kepada masyarakat muslim rohingnya setelah melakukan pembunuhan dan pembantaian “Apa yang Allah bisa lakukan untuk Anda? Lihat apa yang bisa kami lakukan” dan ungkapan itu tentu bentuk intimidasi keagaamaan.

“Itu adalah bentuk rasisme dan fasisme yang mereka lakukan, kebebasa untuk beragama dan hidup dijamin oleh hukum international, dan ujaran kebencian itu tentu melukai perasaan bukan hanya bagi masyarakat muslim rohingya saja, tapi seluruh umat muslim di dunia, kekejian dan kekejaman apa yang seperti ini,” tambahnya.

AMSA mengajak dunia intenational untuk ikut bersimpati, dan peduli terhadap konflik yang terjadi pada muslim rohingnya di Myanmar, sehingga konflik ini segera berakhir.

“AMSA mendesak PBB untuk melakukam tindakan represif dan sanksi tegas terhadap pemerintahan Myanmar atas pelanggaran HAM yang terjadi. Dan mengajak dunia International untuk bersatu membangun kekuatan untuk mendesak pemerintahan Myanmar melakukan penghentian tindakan kekejaman kemanusiaan pada etnis rohingya,” tandas Sapwan Noor. [rel]